• Kelas Spanyol Elemental A2 dibuka Mei 2015
  • Kelas Spanyol Inicial A1-1 akan dibuka Mei 2015
  • Kelas Spanyol Inicial A1-2 akan dibuka MEI 2015
  • Kursus Bahasa Inggris Conversation Setiap Sabtu pukul 9.00 - 12.00
  • Kursus Bahasa Mandarin setiap Sabtu pukul 9.00 - 12.00
  • Selamat Datang Di Website Pusat Bahasa Lembaga Budaya Universitas Trisakti

Bersaudara Lewat Bahasa

26/03/2015

Area: Artikel

Robert Bala, M.A Dipl

Robert Bala. Guru Bahasa Spanyol pada Pusat Bahasa Lembaga Budaya Universitas Trisakti. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol dan Universidad Complutensi de Madrid. (Pernah tinggal di Paraguay (1997-2001) dan Spanyol (2001-2005).

“Bersaudara” Lewat Bahasa

Robert Bala, M.A., Dipl[1]

 

Tahun 1997, saat memulai pengembaraan di Amerika Selatan, dengan cepat penulis merasa ‘at home’. Sebuah perasaan yang sangat penting mengingat di daratan yang sangat luas itu, penulis merasa sangat sendirian. Selama 6 bulan tidak pernah bertemu oang Indonesia. Internet yang merupakan kemudahan yang dimiliki kini, saat itu masih sangat jarang.

 

Di tengah kesendirian itu, ada hal yang menarik perhatian. Tepatnya, di pedalaman Amerika Latin, tepatnya di Paraguay, yang disebut Corazón de America, , ada sesuatu yang sangat menarik perhatian yakni soal bahasa.

 

Dalam waktu yang sangat minim, penulis bisa menyelesaikan studi bahasa Spanyol, hal mana mestinya bukan hal yang luar biasa. Yang lebih menarik bahwa dalam waktu yang sangat singkat, saya bisa masuk dan memahami bahasa daerah, Guarani, bahasa yang hanya dipakai oleh orang Indian.[2]

 

Hal itu menarik, tidak hanya bagi saya tetapi juga bagi para misionaris lain, karena ada yang sudah puluhan tahun tetapi tetap sulit memahami dan berbicara dalam bahasa tersebut. Hal itu berbeda. Mengapa saya (orang Indonesia) begitu cepat? Pertanyaan ini penting karena tidak saja bahasa. Sebagai jendela komunikasi, identifikasi dan penerimaan pun menjadi begitu cepat.

 

Kesamaan Struktur

 

Hal paling sederhana yang membuat orang Indonesia belajar dengan cepat bahasa Guarani adalah penggunaan kata ‘kita’ (Ñande)  dan ‘kami’ (Ore), yang nota bene memiliki kesamaan dengan bahasa Indonesia.

 

Tanpa perlu melihat terlebih dahulu konteks, kata kita sudah mengindikasikan keikutsertaan pendengar pada pengelompokkan itu. Tetapi penggunaan kata kami sekaligus mengambil jarak dengan pendengar karena mereka tidak dimaksudkan dalam pengelompokkan itu. Hal ini agak sulit dipahami oleh orang asing, khususnya Eropa yang menggunakan kata yang sama untuk mengungkapkan ‘kami’ dan ‘kita’.  

 

Ada hal yang lebih menarik. Saat mempelajari bahasa Guarani, dengan cepat penulis memerhatiakn adanya struktur bahasa yang hampir sama dengan bahasa ibu yakni Lamaholot di Flores-NTT. Di sana perubahan terjadi pada awal dan bukan akhir seperti yang terjadi dengan bahasa Spanyol.

 

Kata kerja: aguata (saya berjalan), reguata (engkau berjalan), oguata (dia berjalan), jaguta (kita berjalan), roguata (kami berjalan), peguata (kalian berjalan), dan oguata (mereka berjalan).

 

Dalam bahasa Lamaholot dialek Atadei – Lembata, khususnya Lerek, terdapat kemiripan. Konjugasi ‘pan’ (berjalan), bisa menjadi gopan (saya), mopan (engkau), nepan (dia), kampan (kami), tipan (kita), mipan), depan (mereka).

 

Yang menarik, dalam bentuk negasi, terdapat struktur yang hampir mirip yakni dengan ditambahkan konfiks, yakni pada awalnya ‘nda’ atau ‘ndo’ apalagi diakhi dengan ‘I’.

 

Ungkapan dalam bahasa Guarani ndaguatai (saya tidak jalan), ndereguatai, ndoguatai, ndajaguatai, ndoroguatai, ndapeguatai, dan ndoguatai, untuk mengungkapkan ‘saya tidak berjalan’, memiliki sebuah konsep penempatan konfiks nda (awalan), dan ‘i’ sebagai akhiran.

 

Hal itu tidak berbeda dengan konsep penyangkalan atau negasi pada bahasa Lamaholot, dialek Atadei. Ada juga konfiks dengan bentuk yang nyaris sama. Gopan (saya berjalan) menjadi ‘gotekpanhi’ (saya tidak jalan). motekpanhi,  netekpanhi, kamtekpanhi, titekpanhi, mitekpanhi,  detekpanhi. [3]

 

Perubahan yang terjadi di awal tentu saja berbeda dengan bahasa Spanyol yang perubahan konyungasinya justeru pada akhir. Infinitif ‘ caminar’ (berjalan), bila diubah maka menjadi camino (saya berjalan), caminas (engkau berjalan), camina (dia berjalan), caminamos (kami/kita berjalan), caminais (kalian berjalan), caminan (mereka berjalan).

 

Kemudahan itu selain mempercepat proses pemahaman tetapi lebih terutama membantu proses penerimaan dalam kelompok orang asli. Dengan perawakan yang hampir mirip dengan orang Indian (berbeda dengan orang asing yang putih), maka kesamaan bahasa itu menjadi jembatan penghubung.

 

Pada sisi lain, meski bahasa Spanyol merupakan bahasa nasional-resmi, tetapi orang Amerika Latin sendiri tetap merasa sulit memahami gramatika Spanyol. Hal itu bisa terjadi karena akar bahasa yang berbeda.

 

Sense of Roots

 

Pengalaman awal di Amerika Latin menggugah penulis untuk bertanya lebih jauh. Apakah ada sebuah akar yang memersatukan orang Indonesia (Flores) dengan orang Indian, khususnya Guarani?

 

Pertanyaan ini tanpa disadari menyentuh apa yang oleh Megan Terry dianggap sangat fundamental yakni sebuah imperatif teritorial. Saat menulis: “setiap makhluk, dari satwa sampai manusia, dari belibis sampai pelukis, membutuhkan rumah” maka yang ia maksudkan adalah kerinduan untuk kembali kepada rumah yang adalah akar darinya ia berasal.

 

Yang dimaksud di sini adalah kepastian mengetahui asal-usul. Hal senada ditekankan Weil Simone tentang imperatif mengungkap asal-usul jati diri, karena dari sana seseorang dapat menimba kekuatan kultural dan spiritual sebagai modal dalam menata masa depan.

 

Temuan awal ini seakan membenarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Arysio Santos[4], geolog dan ahli nuklis Brazil yang berusaha menemukan Atlantis yang dalam dongen Plato “Timaeus” sangat jelas digambarkan. Di sana Atlantis digambarkan sebagai benua penuh kemakmuran, kaya raya, memiliki peradaban yang tinggi.

 

Santos kemudian menyimpulkan, Indonesia merupakan replika dari Atlantis yang hilang. Ia merupakan peninggalan siklus ketiga tahun 3000an. Sementara siklus Atlantis kedua 11.000 tahun dan siklus pertama tahun 75.000 justeru menempatkan Atlantis berada di antara Asia dan Amerika Latin. Itu berarti, setelah Atlantis tiada, terjadi pelarían orang yang sebagiannya ke Asia dan yang lainnya ke Amerika Latin.[5]

 

Meskipun kesimpulan seperti ini masih harus ditelusuri lebih jauh, terutama karena perpindahan manusia saat itu bisa saja sudah terpotong dan pergerakan yang menghasilkan orang Indian di Amerika Latin kini dan orang Indonesia kini bisa saja terjadi pada siklus lainnya yang tidak berkaitan sama sekali, tetapi minimal menjadi unek-unek untuk terus menelusuri akar.

 

Tidak hanya itu. Pengalaman menggali akar, bisa memberikan beberapa nilai yang bisa dipetik. Pertama, bahasa tidak pernah tunggal, sekedar berbicara tetapi merupakan sebuah jendela komunikasi kepada budaya. Dalam pengalaman penulis, dengan kedekatan dalam struktur gramar selain memudahkan penulis dalam mempelajari bahasa Guarani tetapi juga memunculkan rasa ingin tahu tentang asal-usul.

 

Kesimpulan ini bersifat umum. Mempelajari sebuah bahasa tidak sekedar mengetahuinya tetapi membuka sebuah ruang komunikasi yang sangat luas. Ia menjadi jendela yang memberi ruang terbuka untuk memahami hal lebih kaya.

 

Kedua, penemuan akan asal usul akan memudahkan proses komunikasi dan proses integrasi. Ada kesalingpengertian dan dengan demikian membantu proses saling menerima. Hal itu terjadi karena dalam proses komunikasi orang berusaha mencari aspek kedekatan yang membuat orang merasa aman.

 

Dalam konteks Amerika Latin, penulis mengalami bahwa penerimaan yang begitu cepat menjadi sebuah elemen positif. Dengan mudah orang Indian merasa bahwa penulis adalah bagian dari mereka, malah disebut sebagai ‘saudara’. Hal itu akan menghilangkan aneka kecurigaan yang bisa saja muncul terutama hal itu berkaitan dengan orang baru.

 

Ketiga, kedekatan budaya dapat menjadi batu loncatan untuk sebuah kerjasama dalam bidang ekonomi. Hal ini semakin penting dalam era globalisasi seperti ini. Kedekatan budaya khususnya bahasa dapat menjadi sebuah nilai lebih dalam memulai sebuah hubungan ekonomis.

 

Dalam konteks Amerika Latin, ketika penemuan akar budaya ini disadari, maka ada anggapan bahwa ketika berbisnis dengan orang Indonesia, tidak bedanya berbisnis dengan saudara sendiri. Tak pelak, kita menjadi pilihan karena adanya ikatan yang kuat hal mana tidak dimiliki oleh orang lain.

 

Kesimpulannya jelas. Lewat bahasa, kita móenemukan persaudaraan. Namun yang lebih penting, persaudaraan, membuka ruang baru lebih menjanjikan.



[1] Robert Bala. Guru Bahasa Spanyol pada Pusat Bahasa, Lembaga Budaya Universitas Trisakti. Alumnus Universidad Pontificia de Salamanca Spanyol dan Universidad Complutensi de Madrid. (Pernah tinggal di Paraguay (1997-2001) dan Spanyol (2001-2005).

 

[2] Diperkirakan terdapat lebih dari 300 bahasa daerah di Amerika Latin.  Tetapi tidak bisa disangkal bahwa ada enam kelompok bahasa yang  menjadi sorotan karena penuturnya lebih dari 500 ribu hingga 12 juta orang yakni (1) Bahasa Nahuátl  atau Azteca yang digunakan oleh orang Indian di Meksiko, Honduras, San Salvador, digunakan hampir oleh 2 juta orang. Juga bahasa(2)  quiché (orang maya)  yang digunakan hampir 500 orang Indian yang tinggal di Meksiko, Guatemala, dan Honduras.

 

Di Kolombia, Bolivia, dan Argentina, juga terdapat kelompok bahasa quechua (Inka),  yang digunakan oleh hampir 7 juta orang. Juga kelompok bahasa Aimara, yang digunakan oleh hampir 3 juta orang Indian di Bolivia dan Peru.

 

Di selatan terdapat dua bahasa lagi. Mapuche atau Mapudunggu, digunakan hampir 500 ribu orang Indian di Chile.  Yang terakhir adalah Guarani, yang nota bene digunakan hampir oleh 12 juta orang  Indian yang menyebar di Paraguay, Brazil, Argentina, hingga Bolivia, Peru, maupun Kolombia dan Venezuela.

 

[3] Robert Bala, Orang Amerika Latin dan Orang Flores “basudara?”, Flores Bangkit, 19 November 2013.

[4] Arysio Santos, Atlantis The Lost Continent Finally Found (1997.

[5] Chris Boro Tokan, dalam RAhasia Atlantis-Matahari, Makna Adonara Solor mengungkap identitas India-Mesir-Cina, , Israle, Yunani, Arab. http/m.facebook.com/notes/pino-rokan/rahasia-atlantis.

 


Comments

There are no comments

Post a comment


icon-sambutan Sambutan Direktur Lembaga Budaya

Sambutan Direktur Lembaga Budaya

Selamat datang di website Pusat Bahasa Lembaga Budaya. Sejak bulan Januari 2015, Pusat Bahasa Lembaga Budaya menempati kantor yang baru di Lantai Dasar, Gedung E (Teknik Elektro) Fakutas Teknologi Industri, Kampus A, Universitas Trisakti. Tempat tersebut digunakan bersama dengan AULA CERVANTES-Lembaga Kebudayaan Spanyol yang memiliki kaitan kerja sama dengan Lembaga Budaya Universitas Trisakti. 

Website ini memberikan informasi tentang kegiatan Pusat Bahasa Lembaga Budaya. Pusat Bahasa yang berada di bawah Lembaga Budaya merupakan lembaga yang mengembangkan program kegiatannya berdasarkan aspek afektif.  Hal tersebut diperlukan untuk mengembangkan kemampuan intelektual seseorang secara lengkap. Oleh sebab itu, berbagai progam kegiatan dirancang dalam bidang budaya dan bahasa baik bahasa Indonesia, bahasa Inggris, maupun delapan bahasa asing lain.

Rancangan program kegiatan di Pusat Bahasa lembaga Budaya didasarkan pada dua kategori utama yaitu untuk meningkatkan kualitas masyarakat Trisakti dan masyarakat luar Trisakti dalam bidang bahasa dan budaya.

Kiranya informasi yang terdapat di dalam laman ini dapat memberikan masukan yang berguna dalam memilih program-porgram yang dibutuhkan.

Terima kasih…

.. more >

Agenda Kegiatan

...

September 2017

SuMoTuWeThFrSa
     12
3456789
10111213141516
17181920
21
2223
24252627282930
  • No events available for this month.